Oleh: Vijay Prashad
25 Januari 2017
Sumber: AlterNet

Jika para pekerja mendapat untung, maka biarlah, begitu pemikiran di Trumpland.

Kredit foto: Puck Magazine
Kredit foto: Puck Magazine

Presiden AS Donald Trump memutuskan bahwa Amerika Serikat akan keluar dari perundingan dagang yang dikenal sebagai Trans-Pacific Partnership. Yang memalukan, sebagian pemimpin buruh AS berdiri di sampingnya untuk merayakan tindakan ini. Apakah penarikan AS dari TPP adalah bagian dari rencana mengalakkan lapangan kerja di AS? Bukan. Keluarnya AS dari TPP harus dipahami sepanjang dua sumbu—pertama tentang politik AS semata-mata dan kedua tentang siasat baru untuk menghidupkan lagi kekuatan AS yang sedang lesu di dunia.

Andai Trump serius keluar dari “globalisasi”, dia akan membuat gaduh tentang banyak kesepakatan dagang lain—Trade in Services Agreement (TISA) dan US-China Bilateral Investment Treaty. Tapi nyatanya tidak. Tidak pula dia memecat 500 penasehat dagang AS, yang, seperti ditulis Lori Wallach dari Public Citizen, mewakili kepentingan korporat dalam menyusun perjanjian dagang demikian. Dia tak ingin menggoyang perahu globalisasi. Itu bukan kepentingan hakikinya.

Bukan China atau Meksiko (seperti dikemukakan Trump) dan bukan pula ketamakan korporat (seperti dikatakan serikat buruh sekali-sekali) yang memukul keras tenaga kerja AS. Yang memenyokkan tenaga kerja ini adalah logika kapitalisme, motivasi firma-firma yang saling bersaing demi upah rendah dan mesin untuk menggantikan manusia. Perang dagang palsu dan ancaman kekuatan serta sanksi bukanlah jawaban untuk dinamika yang memindahkan manusia atas nama keuntungan. Satu-satunya jawaban untuk disodorkan dari penguasa, termasuk Trump, adalah penghasutan. Krisis lapangan kerja patut mendapat solusi serius: kendali sosial atas surplus guna memperbaiki kualitas hidup masyarakat, hari kerja lebih pendek, layan sosial lebih baik, dan kehidupan budaya lebih kaya. Tak satupun dari ini menjadi bagian dari percakapan kita.

Harapan Palsu

Trump dengan cerdik melancarkan kampanye pemilu melawan TPP dan North American Free Trade Agreement. Dia berargumen, gara-gara kesepakatan dagang semacam TPP dan NAFTA-lah lapangan kerja di AS menghilang, menghasilkan “penyembelihan Amerika” yang dia singgung dalam pidato pelantikannya. Jika kesepakatan-kesepakatan ini dirobek, katanya, itu akan “Membuat Amerika Hebat Lagi”.

Trump berargumen bahwa kesepakatan jenis ini membantu China dan Meksiko dan merugikan Amerika. Itu bohong. Sesungguhnya, kesepakatan dagang ini merugikan pekerja China, Meksiko, dan Amerika dan menguntungkan modal global. Modal global-lah yang mendapat untung dari rezim globalisasi saat ini.

Keluar dari kesepakatan ini—seperti “mempertahankan” pabrik Carrier di Indiana—merupakan berita sempurna, terutama ketika media tidak mengedukasi khalayak soal hakikat penarikan diri dari TPP dan seruan negosiasi ulang NAFTA.

Kenapa lapangan kerja menghilang, bukan saja di AS atau Barat, tapi juga di seluruh dunia menurut International Labour Organization? Dua proses telah melemahkan tenaga kerja dunia, dan keduanya menguntungkan kapitalisme global:

  1. Arbitrase Buruh Global, yakni memanfaatkan diferensial upah yang masif ketika IMF memaksa negara-negara Dunia Ketiga menyediakan pekerja untuk kapitalisme global pasca krisis utang 1980-an. Penambahan buruh China dan buruh dari bekas Uni Soviet dan Eropa Timur di awal 1990-an juga menjadi lonceng kematian bagi tenaga kerja Barat yang lebih mahal. Khusus untuk tenaga kerja AS, jaminan sosial melayu di periode ini lantaran kaum kaya mogok membayar pajak untuk pembiayaan program-program ini. Kini pekerja harus menanggung banyak ongkos sosial (pendidikan, perawatan kesehatan, pensiun), yang sebagian mereka nikmati melalui serikat dan kebijakan sosial demokratis. Tanpa subsidi sosial, pekerja AS jauh lebih mahal daripada pekerja di manapun. Dalam konteks ini, firma investasi semacam Goldman Sachs dan Morgan Stanley mendorong agenda pelucutan aset, peruntuhan pabrik di AS dan menjualnya kepada negara lain, seraya membiarkan kota-kota dan wilayah pedesaan berkarat ke dalam keputusasaan opioid dan penyakit masyarakat. Tak ada rangsangan bagi kapitalisme global—bahkan dengan penumpasan regulasi lingkungan dan buruh oleh Trump—untuk kembali masuk ke ekonomi AS secara substansial. Kebijakan fiskal Obama mengantarkan modal murah ke bank-bank, yang mengerami aset-aset ini dan tidak membuat investasi produktif memadai darinya. Tak ada rangsangan untuk berbuat sedemikiran rupa sehingga akan mempekerjakan “orang Amerika terlupakan” yang Trump kampanyekan. Aksi teatrikal Trump soal “pajak perbatasan” tidak akan berarti apa-apa. Langkah demikian akan diremas atau dilemahkan oleh kabinetnya sendiri, khususnya oleh Menteri Perdagangan Wilbur Ross (sang Raja Kebangkrutan) dan Menteri Keuangan Steve Mnuchin (Goldman Sachs).
  2. Robotika. Ekonom John Maynard Keynes menulis tentang “pengangguran teknologis”, di mana mesin menggantikan pekerja manusia dan membuat mereka mubazir. Proses ini tercium oleh Karl Marx di abad 19, yang menyatakan bahwa logika akumulasi kapitalis akan mengarah pada penukaran manusia dengan mesin. Inilah persis yang terjadi di beberapa sektor teknologi tinggi, bukan saja dalam produksi otomobil tapi juga dalam pembuatan komputer. AS, sejak 1979, kehilangan lebih dari tujuh juta pekerjaan pabrik, tapi produksi pabrik naik dua kali lipat dalam periode ini. Michael Hicks dan Srikant Devaraj di Center for Business and Economic Research menunjukkan bahwa 88% pekerjaan yang hilang di AS “bisa dikaitkan dengan pertumbuhan produktivitas, dan perubahan jangka panjang pada pekerjaan produksi”, yakni mekanisasi. Meksiko atau China bukan penjahatnya. Kesalahan harus dilemparkan pada sistem—kapitalisme—yang berusaha mengganti pekerja manusia dengan mesin. Proses ini tak terbendung. Studi McKinsey Global Institute menemukan, lebih dari separuh kegiatan dalam ekonomi AS di bidang produksi, akomodasi, layanan makanan, dan perdagangan ritel dapat diotomasi pada laju teknologi terkini. Perubahan ini, kata para analis McKinsey, “tidak akan terjadi dalam semalam”. Tapi itu akan terjadi. Sudah ada di perbankan, bandara, dan kedai makanan cepat saji, mesin-mesin mengeluarkan uang, mendaftarkan diri Anda, membantu pesanan Anda—inilah nasib sektor jasa.

Kondisi sosial ini tidak mengagetkan bagi generasi muda. Laporan tentang pengangguran muda dari International Labour Organization tahun 2016 memperlihatkan bagaimana kaum muda bukan saja mendominasi pengangguran tapi juga mendominasi tenaga kerja sementara dan paruh waktu. Ini menjerumuskan generasi muda ke dalam kemiskinan ekstrim dan migrasi. Trump akan menjelekkan migran, tapi tidak memperhitungkan penyebab migrasi, yang juga penyebab “penyembelihan Amerika”.

Ini tidak akan disinggung oleh Trump atau Demokrat atau kelas politik di Barat. Mereka takkan membahas ini atau berbuat sesuatu untuk memperbaiki kondisi kaum pekerja. Semboyan seperti Empat Jam Kerja Sehari atau Distribusi Perolehan Produktivitas Secara Lebih Adil atau Upah Sosial Lebih Banyak (pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, angkutan umum gratis) sangat tidak mungkin terwujud. Itu semua adalah tanggapan rasional terhadap krisis sosial yang sedang berlangsung di dunia. Tapi itu gagasan tak rasional bagi sistem kapitalis.

Mengepung Eurasia

Trans-Pacific Partnership 12 negara yang melingkari Samudera Pasifik tak banyak kaitannya dengan perdagangan. Mayoritas dari negara-negara ini memiliki ikatan ekonomi dengan satu sama lain dan memiliki hubungan dagang amat liberal. Motif utama TPP adalah menyekat China. Pada 5 Oktober 2015, mantan Presiden AS Barack Obama mengomeli kritikan terhadap TPP, menyatakan “Kita tak bisa biarkan negara-negara seperti China menulis aturan ekonomi global”. Inilah intisarinya. Pangkalan militer AS dari Jepang sampai Australia serta TPP dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada Beijing: terima aturan AS atau dikeluarkan dari pasar penting di Asia Tenggara dan Asia Timur. Ini taktik ala mafia untuk melindungi hegemoni AS.

Pada saat yang sama, di Eropa, pemerintahan Obama mendorong Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP). Dalam WirschaftsWoche (17 November 2016), Obama dan Kanselir Jerman Angela Merkel menulis bahwa Jerman dan AS harus bersama-sama “membentuk globalisasi berdasarkan nilai dan ide kita”. Siapa yang tidak boleh membentuk aturan globalisasi? Yunani dan negara-negara Eropa selatan lain, pastinya, dan—tentu saja—Rusia. Perluasan NATO ke Eropa Timur—ke perbatasan Rusia di Polandia—setali tiga uang dengan pangkalan AS di Okinawa dan Teluk Subik menantang China. TTIP, seperti TPP, berusaha memastikan negara-negara Eropa tidak menjeratkan diri dengan kekuatan Rusia yang sedang muncul. Rusia menyebut TTIP sebagai “NATO ekonomi”. Gedung Putih Trump menghapus laman mengenai TTIP dari situsnya. Ini cukup dekat dengan pembatalan.

Ini semua lebih mirip senjata, ketimbang rezim dagang, untuk menyekat China dan Rusia di dua ujung Eurasia. Pada 2010, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara tentang persekutuan dagang yang akan memanjang dari “Vladivostok sampai Lisbon”. Ini tidak bisa diterima oleh Eropa dan AS. Rusia mengembangkan rezim dagangnya sendiri—Eurasia Economic Union—dan begitupun China dengan Regional Comprehensive Economic Partnership. Blok-blok ini juga sudah bekerjasama melalui Proyek Jalur Sutera China dan menuju pengembangan integrasi ekonomi Rusia-China. Semakin keras Barat berusaha memutus Rusia dan China dari pasarnya, semakin banyak mereka menemukan kepentingan bersama di antara satu sama lain. Kecil kemungkinannya pemerintahan Trump akan mampu mendorong pengganjal antara Beijing dan Moskow.

Trump mungkin sudah memperlunak bahasa pemerintah AS soal Rusia, tapi dia belum berbuat demikian terkait China. Penarikan diri dari TPP takkan mengubah motif strategis utama kebijakan tersebut—menyekat dan mengancam China. “Perdamaian melalui kekuatan” adalah kerangka Trump untuk AS, yang gemar perang, terhadap China. Proyek ini identik dengan perputaran Obama ke Asia. Di Davos, Perdana Menteri China Xi Jinping berkata tajam bahwa perang dagang takkan menguntungkan siapapun. Ini tidak sepenuhnya benar. Hanya 4% dari produk China datang ke AS. Tarif di sini takkan merusak kepentingan bisnis China. Tarif 45% atas impor China akan menghancurkan standar hidup konsumen Amerika—yang kebanyakan merana oleh upah mandek. Pembalasan dari China mungkin akan memperlemah kemampuan perbankan untuk menawarkan produk kredit kepada tenaga kerja AS yang semakin terlilit utang. Perang dagang—atau bahkan perang [sungguhan]—antara China dan AS, jika itu merugikan seseorang, akan memukul keras kelas pekerja AS. Ini belum Trump utarakan kepada konstituennya. Populismenya adalah populisme tak karuan—mendorong kecaman terhadap globalisasi tapi di saat yang sama meneruskan kebijakan itu-itu juga.

Tentang penulis:

Vijay Prshad adalah profesor studi-studi internasional di Trinity College di Hartford, Connecticut. Dia adalah pengarang 18 buku, termasuk Arab Spring, Libyan Winter (AK Press, 2012), The Poorer Nations: A Possible History of the Global South (Verso, 2013), dan The Death of a Nation and the Future of the Arab Revolution (University of California Press, 2016). Kolomnya tampil di AlterNet setiap hari Rabu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s